Postingan

Ruang Jarak

Gambar
Sepi Di sini sepi, kak Aku lihat ke belakang Gaduh sekali Ada genderang yang ditabuh tak karuan Kacau Jangan ke sana, kak Terlalu bising Seperti kelereng kaca yang beradu didalam dandang ibu di dapur Kak, ke mana kini angin bertiup?  Ke utarakah? Ke timurkah? Atau ke tenggara? Rasakan saja, katamu Tapi aku tidak mau, kak Aku ingin bertanya,  ke mana kini angin bertiup?  Ke utarakah? Ke timurkah? Atau ke tenggara? Hanya kudapat senyum Ingatkah kau tempat kita?  Aku tidak ingin ke tempat genderang yang ditabuh Aku ingin ke tempat kita  Kak, jangan ke tempat genderang ditabuh, di sana bising Aku tidak di sana, kak Di sini saja, di tempat kita Tempat kau dan aku yang berjarak masa, yang tidak bertemu  Karena tidak ada titik temu Karena hanya ada jarak.  Hanya ada sepi Hanya ada aku Apa mungkin ada kamu?

Cita-Cita, Harapan, Kenyataan

Gambar
Kemarin sore sambil menunggu jam pulang kantor saya mengunduh kembali aplikasi Spotify hanya untuk mendengarkan podcast Es Podeng punyanya bang Acen (si empunya Jalan Pendaki). Dan tak disangka ternyata mendengarkan podcast menyenangkan juga, ya, seperti mendengarkan radio tapi ini penuh narasi tanpa ada lagu-lagu kesayangan kita yang diputar dan gak bisa titip-titip salam buat gebetan. Eh, tapi bang Acen suka ngasih lagu di akhir episode. Jadi saya tertarik mendengarkan curhatan bang Acen tentang kenapa dia resign dari kantor , ya… siapa tau saya bisa dapat ide bagaimana cara jitu resign dan merasa tetap tenang, hehe. Tapi ternyata dibalik postingan-postingan indahnya yang 30 hari keliling gunung itu, ada cerita yang gak indah. Setelah mendengarkan ceritanya saya tertegun, inilah saat di mana seharusnya saya bersyukur, tapi apalah daya saya hanya manusia biasa yang kadang memang gak tau diri.  Dalam podcast nya bang Acen cerita pingin bisa jalan-jal...

Selamat Siang, Saya Masih Mengantuk

Gambar
Sebangun pagi tadi saya merasa gak bersemangat, rasanya masih ingin tidur dua atau tiga jam lagi, tapi gak bisa karena harus bekerja, meski begitu masih saya teruskan menutup diri dengan selimut. Saya mengirim pesan pada seseorang berharap paginya lebih baik dari saya, lalu melihat jam menunjukan waktu 07.28 baru saya bangkit untuk mandi dan bersiap berangkat kerja. Saya terlambat sampai kantor, tentu saja. Tidak apa, saya punya jatah terlambat 5 kali dalam sebulan dan bulan ini baru dua kali dengan hari ini, masih ada tiga kali kesempatan. Saya sempatkan untuk sarapan dengan rekan kerja yang lain. Setelahnya kami mulai berhadapan dengan pekerjaan masing-masing. Tapi saya masih merasa sangat mengantuk, padahal semalam tidak tidur larut malam. Karena tidak bisa fokus jadi saya belum mengerjakan apa-apa, saya memilih membuka blog dan menuliskannya, berharap setelahnya mendapat sedikit semangat dan rasa kantuknya menghilang. Tapi sepertinya saya akan menunggu jam makan siang s...

Kretek Tingwe

Gambar
Shinta duduk di kursi reyot tua yang kontras dengan tubuh mudanya, direbahnya tubuh tanpa gairah sambil memandang pekarangan belakang rumah yang tak kalah muram. Wajahnya lesu tapi masih meninggalkan jejak cantik, dahinya berkerut menyiratkan beban di dalam kepala, pikirannya penuh dan kusut seperti benang yang dikuwel-kuwel sulit untuk diuraikan.  Tak jelas apa yang dipandanginya seolah penglihatannya bisa menembus pagar sampai jauh, sejauh-jauh yang tak bisa dibayangkan. Tak lama ia mengubah posisi duduknya jadi miring ke kiri mengeluarkan suara derit kursi yang memecahkan keheningan, ditopang dagunya dengan tangan kiri yang bertumpu pada tangan kursi, seperti sangat lelah dihembuskan napasnya dengan berat. Rama mengintip dari balik pintu, bertanya-tanya ada apa gerangan Shinta yang selalu terlihat berseri menjadi lesu seperti tahanan perang yang tidak makan dan tidak tidur berhari-hari. Didekatinya Shinta dengan langkah santai tapi penuh rasa ingin tau, Rama duduk d...

Sudut Pandang Pinggir Jalan

Gambar
Aku berdiri di pinggir jalan Tak tahu ingin ke kiri atau ke kanan Melihat berbagai kendaraan Hilir mudik tak karuan Tak ada yang menepi Sibuk, semua sibuk Lihat! Wajah-wajah tak bahagia itu Pasrah pada waktu Tak tahu apa yang ditunggu Satu, dua, tiga ... empat, lima Aku mulai berhitung Tapi masih tak tahu ingin ke kiri atau ke kanan Kendaraan masih berlalu-lalang Aku masih di pinggir jalan Dan wajah-wajah itu masih tak bahagia