Postingan

Menampilkan postingan dengan label poem

Ruang Jarak

Gambar
Sepi Di sini sepi, kak Aku lihat ke belakang Gaduh sekali Ada genderang yang ditabuh tak karuan Kacau Jangan ke sana, kak Terlalu bising Seperti kelereng kaca yang beradu didalam dandang ibu di dapur Kak, ke mana kini angin bertiup?  Ke utarakah? Ke timurkah? Atau ke tenggara? Rasakan saja, katamu Tapi aku tidak mau, kak Aku ingin bertanya,  ke mana kini angin bertiup?  Ke utarakah? Ke timurkah? Atau ke tenggara? Hanya kudapat senyum Ingatkah kau tempat kita?  Aku tidak ingin ke tempat genderang yang ditabuh Aku ingin ke tempat kita  Kak, jangan ke tempat genderang ditabuh, di sana bising Aku tidak di sana, kak Di sini saja, di tempat kita Tempat kau dan aku yang berjarak masa, yang tidak bertemu  Karena tidak ada titik temu Karena hanya ada jarak.  Hanya ada sepi Hanya ada aku Apa mungkin ada kamu?

Sudut Pandang Pinggir Jalan

Gambar
Aku berdiri di pinggir jalan Tak tahu ingin ke kiri atau ke kanan Melihat berbagai kendaraan Hilir mudik tak karuan Tak ada yang menepi Sibuk, semua sibuk Lihat! Wajah-wajah tak bahagia itu Pasrah pada waktu Tak tahu apa yang ditunggu Satu, dua, tiga ... empat, lima Aku mulai berhitung Tapi masih tak tahu ingin ke kiri atau ke kanan Kendaraan masih berlalu-lalang Aku masih di pinggir jalan Dan wajah-wajah itu masih tak bahagia

Merayakan Hari Puisi Sedunia

Roses are red Violets are blue Once again she's come to the rescue Mari luangkan waktu untuk merayakan hari puisi sedunia yang jatuh pada hari ini, 21 Maret. Kamu suka berpuisi? Saya suka berpuisi, tapi jarang. Bagi saya puisi adalah bentuk dari kata hati dan pikiran yang paling jujur tapi juga paling tersamar. Karenanya saya lebih suka jujur lewat puisi soalnya orang-orang yang membaca gak mengerti maksud sebenarnya dari puisi yang saya buat, hehe. Dan lagi para pembaca bebas menafsirkan puisi yang dibacanya, kan? Ada satu puisi yang saya buat suatu hari di keheningan lewat tengah malam, judulnya  Bias . Setelah selesai saya tulis dan saya baca lagi saya merasa puas, lalu seseorang bilang puisinya bagus, saya tersenyum lalu mengangguk, saya pikir itu adalah puisi terbaik yang pernah saya buat. Bicara puisi, siapa penyair kesukaanmu? Kalau saya ... tidak ada. Tapi saya suka sekali salah satu puisi karya Sapardi Djoko Damono, "Aku ingin mencintaimu dengan s...

Cangkir yang Dingin

Biarkan aku duduk bersandar menyesap teh panas Tanpa gula maka tak perlu sebuah pengaduk Dengan begitu teh hijau tepat dengan rasa pahitnya Tak perlu berpikir amati saja asap tipisnya Aku sedang tidak ingin berpikir Aku amati asap tipis yang keluar dari cangkir Jangan buat aku memikirkannya Bagaimana warna air yang perlahan menjadi hijau Warna hijau ringan yang perlahan menjadi coklat keemasan Sungguh aku tidak ingin berpikir Aku amati daun teh yang mengambang dan yang tenggelam Jangan buat aku memikirkannya Bagaimana menentukan daun mana yang tenggelam Dan daun mana yang mengapung di permukaan Aku tidak ingin memikirkan Berapa orang yang peduli dengan daun yang tenggelam Dan berapa orang yang peduli dengan daun yang mengambang Aku teguk habis teh dalam cangkir Cangkir masih hangat Aku letakkan cangkir terbalik di lantai Aku tidak memikirkannya Aku tidak berpikir Maka aku menghilang Bersama d...

Ritus Pagi

Gambar
Pagi yang cukup sejuk karena matahari begitu redup.  Di satu gerbong kereta yang sedikit lenggang.  Berisikan orang-orang dengan kepentingannya masing-masing. Sambil menunggu stasiun pemberhentian, mengisinya dengan kegiatan monoton yang cukup memuakkan.  Dalam keheningan,  sebagian besar yang duduk maupun yang berdiri larut dalam keasyikan smartphone di genggaman tangan, sebagian besar lainnnya memejamkan mata tertidur atau memaksa untuk tertidur,  lainnya menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong atau memang berniat memperhatikan jalan. Lalu diriku yang selama 40 menit mencoba menyibukkan diri dengan kata-kata yang tercetak dalam sebuah buku,  namun tak berhasil dan akhirnya menuliskan ini.  Sampai akhirnya tiba di stasiun pemberhentian dan menyatu dengan puluhan pion-pion lainnya keluar stasiun dan melewati jalur yang sama untuk kemudian memulai aktivitas yang sama seperti biasa.

Malam di Lembah Surya Kencana

Rasa kebas seperti satu malam Oktober di Lembah Surya Kencana Malam yang biasa namun terasa begitu sangat panjang Malam yang sangat gelap namun seakan terlihat segala Malam yang begitu apa adanya namun seakan hadir lengkap Sunyi damai memenuhi hati menenangkan pikiran Hadir bayang wajah-wajah teduh meneduhkan Bisik suara-suara bijak mengingatkan Sentuhan ringan dan belaian lembut kian nyaman Asa ingin memandang langit megah bertabur ribuan bintang Bermanja di atas rerumputan basah yang karena embunnya Ijinkan angin memainkan rambut yang lalai dari lindungan tudung Tenggelam dalam perbincangan hangat dan santainya Riung antara kayu dan api serta gelas-gelas dalam genggaman Lengkap, terasa penuh terasa hangat Dan semua enyah tersapu kabut dingin Hanya hembusan angin menyapa pekat Hanya timbul riuh bertemu dahan dan suket Hanya dinding-dinding parasut tipis menjadi sekat Pada akhirnya hanya ada dingin yang lekat Membelai k...

Lembab, dan Aku Benci

Hari - hari kelabu Matahari bersembunyi menjadikan langit sendu Awan-awan berkumpul melepas titik-titik air Bumi yang basah dan tumbuhan menari-nari Udara dingin dan semua menjadi lembab Aku benci lembab tapi aku suka udara dinginnya Tidak bisakah matahari mengintip sedikit saja? Pada kucing yang berjalan menghindari genangan Pada pakaian basah yang tergantung di halaman rumah Pada jamur di sudut-sudut ruangan lembab yang muram Pada diri ini yang tidak menyukai lembab di ruang yang lantai dan dindingnya lembab, 12 Februari 2017

Bias

laut tenang sejenak namun malam selalu sunyi tiada indahnya pertemuan malam dan laut kala sepi samudra lepas bersama buih beriringan serasi menjemput tepi tiada damainya salam yang tak terkasihi maka tenangku berangsur pergi baik malam semakin sunyi semakin sunyi semakin mati . . .

Ada yang Tiada

Pernahkah kau berpikir sesuatu yang telah ada lama yang seharusnya tidak ada? Pernahkah kau mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah ada? Jika seseorang berkata “Aku berpikir maka aku ada” Masih terus ku bercermin untuk berkata “Aku ada” Samar-samar kudengar langkah-langkah kaki mendekat Tanpa ada sekelebat pun bayang yang tertangkap Bising mengepung tanpa celah Suara-suara tinggi yang tidak mudah dimengerti Bergegas masuk memenuhi telinga tanpa kompromi Semilir angin membawa isyarat Udara kering yang kini terasa nyata atau udara lembab yang baru saja sirna Ancang-ancang beranjak pergi tanpa tau asal tanpa tau tuju Mamaksa nyata untuk menepis semu Satu yang ku yakin adanya Detak jarum jam pada setiap masanya

Samar lalu Menghilang

Aku masih di sini Diam memperhatikan penuh arti Tersenyum kala tatap bertemu Menyambut sehangat sebisaku Yang dulu datang membawa ceria Yang dulu pernah dekat dan mesra Perlahan menjauh menjadi bayang-bayang Bayang-bayang samar yang bisa saja segera menghilang Ingin ku mempertanyakan, mengapa hanya singgah jika sudah membangun rasa? Mengapa tetap tinggal  jika harus pergi?  Mengapa pergi jika bisa tinggal? Lalu apa itu persahabatan sejati? Tidak ada, itu hanya paradoks Hanya singgah, membangun rasa, perlahan menjadi bayang-bayang, samar, lalu menghilang.

Enyahlah Dari Pikiran!

Lelah dengan semua drama yang tercipta. Lelah dengan semua wajah palsu mereka. Kuputuskan untuk tetap diam. Diam dan tetap terpikirkan. Kucoba mengalihkan dengan yang lain, namun kembali terdiam. Tak ada yang lain di sini, kemudian kembali terpikirkan olehku. Kulangkahkan kaki ini untuk sebuah perjalanan, menghindari diam, menghindari yang terpikirkan. Terlalu jauh melangkah, lelah pula kudapat. Kini tersandar aku pada sebuah bangku panjang di dalam transportasi publik, melihat lurus ke depan menembus kaca jendela di sebrang. Pemandangan jalan raya yang berkelebat membuat pandangan tanpa fokus. Kemudian menyadari samar-samar pantulan dari kaca jendela, sosok yang kutahu namun belum kupahami. Hilang sudah titik fokus pandanganku, kembali lagi terpikirkan olehku. Aku kembali diam. Entah akan kemana, entah apa yang dicari. Masih pada perjalanan yang belum berakhir. Kali ini terdiam pasrah pada kemacetan kota, penuh sesak, bising, bercucuran peluh. Terdiam lagi...

Derai Air

Gambar
source Hujan ... Menyampaikan rasa yang ditunggu Menghapus rindu yang pilu  Dan semua yang semu Hujan ... Datang untuk yang bertahan Harapan akan sebuah keyakinan Untuk mereka yang mengharap jawaban Hujan ... Hanyalah hujan Disanalah kau berasumsi Akankah meluruhkan kesedihan Atau menghancurkan yang rapuh Menguatkan ketegaran Ataukah mengubur asa Hujan.

IDEAL-IS

Sosok berprinsip sang Idealis Cowok idealis itu manis Menuju perfeksionis Apakah juga melankolis ? Mungkin juga puitis Apa benar mereka egois ? Dapatkah mereka juga realistis ? . . .

Malamku Sendu

Gambar
Lelah ku pada diri ini Terbelenggu dalam dekapan depresi Menjauhkanku pada keindahan Ilahi Tak ada lagikah yang dapat ku lakukan? Selain menyerah pasrah pada kedepresian? Tak bisakah kau membatu membuatku bertahan? Kini malam tak seindah dulu Bulan, tak dapat lagi kumelihat dirimu Hanya angan-angan, hanya bayangan semu . . .

見える

Akankah kau seperti bulan Yang selalu berada di sana Ketika kumelihat ke atas Akankah kau seperti bulan Yang selalu bersinar terang  Hingga mudah kutemukan Akankah kau seperti bulan Bersembunyi di balik gerhana Meredup dan tak terlihat Akankah kau seperti bulan ? Bulan akan tetap menjadi bulan Akan selalu di atas sana dan bersinar Kau adalah kau Akankah kau tetap menjadi dirimu ?
... rasa syukur ku atas apa yang telah ku miliki semoga kan tetap terjaga sampai nanti lalu ku relakan mereka yang telah pergi dan mereka yang belum benar-benar pergi semoga kan kembali.

Gadis penyendiri

Gambar
Sunyi ruangan menjadi nyaman baginya Suara-suara asing tak dipedulikannya Keberadaan seseorang pun tak akan disadarnya Habiskan waktu hanya untuk dirinya sendiri Apa yang dia pikirkan tak seorang pun dapat menerka Apa yang ada di hati sepenuhnya miliknya sendiri Menciptakan dunianya sendiri ditengah lekat kesunyian