Postingan

Rayakan Kegelisahan Hari Ini

Gambar
Akhir-akhir ini yang membuat saya tetap ingin menjalani hidup adalah rasa lapar. Bagi saya rasanya krisis sudah di depan gang yang hanya beberapa langkah saja akan sampai, perasaan pesimis sangat mendominasi. Tapi hari ini saya masih bisa bersyukur karena masih bekerja dan masih akan mendapat gaji untuk beberapa bulan ke depan (semoga saja). Konsekuensinya saya masih harus keluar rumah setiap hari tentu saja untuk bekerja, kabar baiknya beberapa perusahaan di gedung tempat saya bekerja sudah menerapkan bekerja dari rumah untuk pegawainya sehingga gedung menjadi sepi dan saya tidak berpapasan dengan banyak orang. Yah, saking pesimisnya saya anggap ini kabar baik. Sebenarnya ini saat yang tepat untuk menyerah saja dengan kehidupan, setelah rencana dan harapan akan masa depan yang saya tuju mulai terlihat samar jalannya. Tapi saya memilih bertahan karena rasa lapar. Jujur saja saya tidak ingin mati dalam waktu dekat ini, tidak dalam situasi ini, tidak karena penyakit pandemi ini....

Ada ada saja

Waktu SD dulu cita-cita ingin jadi pelukis, lalu berubah ingin jadi penjahit, ketika SMP sudah mengerti desain busana lalu ingin jadi fashion designer. Ketika di SMK sudah mulai suram nggak tau minatnya apa, dan hanya ingin sekolah di Jepang, sampai mencari info Monbukagakusho, lalu kepikiran buat belajar design interior. Kalau sekarang mah rasanya ingin berternak saja di suatu desa di lembah Swedia. Ternak domba, yang di sela-sela harinya diisi dengan merajut di depan perapian. Hhh... kalau badan lagi panas ada-ada saja mikirnya. Badan yang tiba-tiba panas dan sakit tenggorokan beneran bikin parno di situasi saat ini, sudah terpikir hal-hal buruk saja. Kalo besok pagi masih panas atau ada gejala batuk-batuk akan ke rumah sakit dan segera menulis surat wasiat yang isinya password dan pin dan catatan hutang piutang... Bukankah lebih baik tidur ya, daripada overthinking dan menuliskannya (¬_¬)

Healing Food After a Whole Day Crying

Gambar
Sudah lama sekali tidak ada resep aneh kreasi sendiri di blog ini, saatnya mencoba masak-masak sederhana untuk pelipur lara. Untuk nama masakannya sedang dipikirkan, sih… tapi daripada pusing-pusing sebut aja Pokcai Rebus dengan Telur … ng.. ya, itulah. Bahan-bahan seadanya : Sayur pokcai Satu butir telur bebek (bisa pakai telur apa aja -tapi jangan telur cicak) Tiga siung bawang merah/bawang putih (seadanya aja) Garam Gula pasir Penyedap rasa Beberapa ml air Cara membuat : Pertama siapkan sayur, potong pokcai yang sudah dicuci kecil-kecil atau sesuai selera. Siapkan telur, kocok telur dalam wadah, beri garam secukupnya. Lalu panaskan sedikit minyak goreng untuk menumis bawang. Jika minyak sudah panas tumis bawang yang sudah diiris, beri garam sedikit. Jika bawang sudah harum masukkan air dikira-kira aja secukupnya, tunggu sampai mendidih. Tuangkan kocokan telur ke air mendidih tadi sedikit-sedikit sambil diaduk-aduk, masukkan penyedap rasa, sedikit gula p...

ChitChatNN: Hidup Begitu Melelahkan, Mari Istirahat Sebentar

Gambar
credit: @amlptrk Setelah beberapa purnama akhirnya menulis bareng lagi dengan Nika. Kalau dengan Nika tentunya akan membahas hal-hal yang ramai dibicarakan, kali ini tentang toxic positivity . Hhh… istilah apalagi ini… Lebih baik baca tulisan Nika terlebih dulu di #ChitChatNN : Toxic Positivity , setelahnya baru balik lagi ke blog ini. Tidak balik lagi juga tidak apa-apa, sih. Rasanya lelah sekali dengan society these days yang mempermasalahkan hal apapun setiap harinya, atau hanya saya yang terlampau mengasingkan diri? Setelah masalah anxiety karena toxic people kemudian berusaha untuk spread positive vibes lalu ini malah yang terlihat positif dibilang racun juga. Sepertinya serba salah menjalani hidup dalam society . Tapi mungkin kurang lebihnya saya pernah merasakan kesalnya terpapar yang disebut toxic positivity . Suatu waktu saya dinasehati oleh kakak sepupu, semua kata-katanya sangat logis dan bernada positif tapi sialnya suasana hati saya mendadak menjadi su...

Taman Ismail Marzuki Dan Impian Masa Kecil

Gambar
Pertengahan Oktober kemarin saya menonton pertunjukan orkestra di Taman Ismail Marzuki. Saat itu acara yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta adalah Jakarta City Philharmonic edisi #25 bertema “Manusia dan Mesin” dengan menampilkan karya: Aldiansya, Fero “Gerigi” PROKOFIEV, Sergei “Konserto Piano Kedua dalam G Minor, Op. 16” Adams, John “Short Ride on a Fast Machine” Sibelius, Jean “Simfoni Ketujuh dalam C Mayor, Op. 105” Mossolov, Alexander “The Iron Foundry, Op. 19”   Informasi di atas saya salin dari akun instagram @jakartscouncil karena tentu saja saya tidak akan ingat karya apa saja yang ditampilkan, walau sebelumnya sudah disebutkan oleh pembawa acara. Sebenarnya saya nggak mengerti musik klasik seperti itu, yang membuat saya ingin menonton adalah karena saya belum pernah menyaksikan orkestra secara langsung di gedung teater. Ya, se- random dan clueless itu saya membuat keputusan. Kebetulan waktu itu menontonnya setelah melewati hari yang cukup lelah di kant...